Minggu, 26 April 2009

MEMBANGUN BUDI PEKERTI DI ERA GLOBALISASI

MEMBANGUN BUDI PEKERTI DI ERA GLOBALISASI
  •  ••                     
Artinya : Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
Akhlak yang mulia, menurut Imam Ghazali ada 4 perkara; yaitu bijaksana, memelihara diri dari sesuatu yang tidak baik, keberanian (menundukkan kekuatan hawa nafsu) dan bersifat adil. Ia merangkumi sifat-sifat seperti berbakti pada keluarga dan negara, hidup bermasyarakat dan bersilaturahim, berani mempertahankan agama, senantiasa bersyukur dan berterima kasih, sabar dan rida dengan kesengsaraan, berbicara benar dan sebagainya. Masyarakat dan bangsa yang memiliki akhlak mulia adalah penggerak ke arah pembinaan tamadun dan kejayaan yang diridai oleh Allah Subhanahu Wataala. Seperti kata pepatah seorang penyair Mesir, Syauqi Bei: "Hanya saja bangsa itu kekal selama berakhlak. Bila akhlaknya telah lenyap, maka lenyap pulalah bangsa itu".
Akhlak yang mulia yaitu akhlak yang diridai oleh Allah SWT , akhlak yang baik itu dapat diwujudkan dengan mendekatkan diri kita kepada Allah yaitu dengan mematuhi segala perintahnya dan meninggalkan semua larangannya, mengikuti ajaran-ajaran dari sunnah Rasulullah, mencegah diri kita untuk mendekati yang ma’ruf dan menjauhi yang munkrang mukmin itu mesti jantan dan terpuji,” kata Nabi
Akhlak yang buruk itu berasal dari penyakit hati yang keji seperti iri hati, ujub, dengki, sombong, nifaq (munafik), hasud, suudzaan (berprasangka buruk), dan penyakit-penyakit hati yang lainnya, akhlak yang buruk dapat mengakibatkan berbagai macam kerusakan baik bagi orang itu sendiri, orang lain yang di sekitarnya maupun kerusakan lingkungan sekitarnya sebagai contohnya yakni kegagalan dalam membentuk masyarakat yang berakhlak mulia samalah seperti mengakibatkan kehancuran pada bumi ini, sebagai mana firman Allah Subhanahu Wataala dalam Surat Ar-Ruum ayat 41 yang berarti
        ••       
Artinya : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
KEUTAMAAN AKHLAK
Tatkala Rasulullah SWT. menasehati sahabatnya, beliau menggandengkan antara nasehat untuk bertaqwa dengan nasehat untuk bergaul/berakhlak yang baik kepada manusia..Dalam timbangan (mizan) amal pada hari kiamat tidak ada yang lebih berat dari pada akhlak yang baik
saudara saudara kaum muslimin yang berbahagia……
Akhlak yang paling baik memiliki keutamaan yang tinggi. Karena itu sudah sepantasnya setiap muslimah mengambil akhlak yang baik sebagai perhiasannya. Yang perlu diingat bahwa ukuran baik atau buruk suatu akhlak bukan ditimbang menurut selera individu, bukan pula hitam putih akhlak itu menurut ukuran adat yang dibuat manusia. Karena boleh jadi, yang dianggap baik oleh adat bernilai jelek menurut timbangan syari’at atau sebaliknya. Jelas bagi kita bahwa semuanya berpatokan pada syari’at, dalam semua masalah termasuk akhlak. Allah sebagai Pembuat syari’at ini, Maha Tahu dengan keluasan ilmu-Nya apa yang mendatangkan kemashlahatan/kebaikan bagi hamba-hamba-Nya
1. Dermawan
Kedermawanan merupakan sifat yang dicintai dan terpuji. Sebagaimana sifat bakhil (pelit) adalah sifat yang tercela dan mengundang kebencian orang lain. Sifat dermawan akan menumbuhkan kecintaan dan menyingkirkan permusuhan. Dengan sifat itulah nama baik akan terjaga dan aib-aib akan tertutupi. Apabila seseorang telah menghiasi dirinya dengan sifat dermawan maka akan sucilah jiwanya. Dengan demikian akan mengangkat dirinya untuk bisa menggapai kemuliaan akhlak, keutamaan yang tinggi. Maka orang yang dermawan amat sangat dekat dengan segala kebaikan dan kebajikan.
2. Merasa Senang Dengan Perlakuan Baik Orang Lain Meski Hanya Sedikit
Yaitu dengan menerima kebaikan orang lain meskipun hanya sepele. Dan tidak menuntut mereka untuk membalas kebaikannya dengan persis serupa. Sehingga dia tidak akan menyulitkan orang lain. Allah ta’ala berfirman
       
Artinya, “Berikanlah maaf, perintahkanlah yang ma’ruf dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raaf: 199).
Abdullah bin Az-Zubair mengatakan, “Allah memerintahkan Nabinya untuk suka memberikan maaf dan toleransi terhadap kekurangan akhlak orang lain.”
2. Mengharapkan Pahala Dari Allah
Perkara ini merupakan salah satu sebab utama untuk bisa menggapai akhlak yang mulia. Dengan hal ini orang akan mudah untuk bersabar, beramal dengan sungguh-sungguh, dan tabah dalam menghadapi gangguan orang lain. Apabila seorang muslim meyakini bahwa Allah pasti akan membalas kebaikan akhlaknya, niscaya dia akan bersemangat untuk memiliki akhlak-akhlak yang mulia, dan rintangan yang dijumpainya akan terasa ringan.
3. Saling Menasihati Agar Berakhlak Baik
Yaitu dengan mengingat-ingat keutamaan akhlak mulia dan memberikan peringatan keras dari keburukan akhlak. Dan juga memberikan nasihat kepada orang yang berakhlak buruk agar menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia. Akhlak yang mulia termasuk kebenaran yang harus dipesankan kepada yang lain. Allah ta’ala berfirman :
         
Artinya, “Dan mereka saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 3).
4 Menerima Nasihat yang Sopan dan Kritikan yang Membangun
Hal ini termasuk sebab yang dapat memudahkan untuk bisa memiliki akhlak yang mulia dan mengikis akhlak yang jelek. Bagi orang yang diberi nasihat maka hendaknya dia menerimanya dengan lapang dada. Bahkan sudah semestinya bagi orang-orang yang merindukan kesempurnaan -apalagi yang berkedudukan sebagai pemimpin- untuk meminta saran kepada orang-orang tertentu yang dia percayai untuk mengetahui dan mengoreksi kesalahan dan kekurangan dirinya. Dan hendaknya dia menyambut nasihat dan koreksi yang mereka berikan dengan perasaan senang dan gembira.

5. Rendah hati
Kerendahan hati merupakan tanda kebesaran jiwa seseorang, cita-citanya yang tinggi dan merupakan jalan untuk menggapai kemuliaan-kemuliaan. Hal itu merupakan akhlak yang akan mengangkat kedudukan pemiliknya dan membuahkan keridaan orang-orang yang baik dan memiliki keutamaan kepada dirinya. Sehingga hal itu akan memudahkan dan memotivasi dirinya untuk bisa mengambil pelajaran dari siapapun. Dan sifat itulah yang akan menghalangi dirinya dari karakter sombong dan tinggi hati.
6. Mudarah/bersikap ramah
Umat manusia diciptakan untuk berkumpul bukan untuk saling mengasingkan diri. Mereka diciptakan untuk saling mengenal bukan untuk saling memusuhi. Dan mereka juga diciptakan untuk saling menolong bukan untuk mengurusi segala keperluan hidupnya sendirian. Salah satu kebijaksanaan aturan Allah yang dapat menjaga manusia dari sikap saling memutuskan hubungan dan kasih sayang adalah adanya ajaran mudarah yaitu menyikap orang dengan tetap ramah dan sopan. Karena mudarah akan menumbuhkan kedekatan dan kecintaan. Dengannya pendapat yang saling berseberangan akan bisa disatukan dan hati yang saling menjauhi bisa direkatkan. Bentuk mudarah ialah dengan menjumpai orang dalam kondisi yang baik, ucapan yang lembut serta menjauhi sebab-sebab terpicunya kemarahan dan kebencian kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu yang menuntut hal itu memang harus ditampakkan. Di antara bentuk mudarah yaitu anda bersikap ramah dan mau duduk bersama orang yang sebenarnya anda musuhi, anda berbicara dengannya dengan santun dan menghormati keberadaannya. Bahkan terkadang dengan mudarah itulah permusuhan akan padam dan berubah menjadi persahabatan. Al-Hasan mengatakan, “Pertanyaan yang bagus adalah separuh ilmu. Bersikap mudarah kepada orang lain adalah separuh akal…”
7. Menjadikan Orang Lain Sebagai Cerminan Bagi Dirinya Sendiri
Hal ini sangat layak untuk dilakukan oleh setiap individu. Segala ucapan dan perbuatan yang tidak disukainya dari orang lain maka hendaknya dia jauhi. Dan apa saja yang disukainya dari perkara-perkara itu hendaknya dia lakukan
Saudara saudara kaum muslimin yang berbahagia……
Konsep 7B adalah metode untuk memperoleh akhlak mulia. Konsep 7B yang dimaksud adalah :
a. Beribadah Dengan Benar. Awali setiap peker-jaan dengan suatu niat yang baik yaitu hanya un-tuk memperoleh keridhoan Allah Ta'ala semata. Hal itu merupakan suatu ibadah dengan benar. Beribadah dengan benar akan membuat sese-orang semakin tawadhu, hati rnenjadi tentram dan kehidupan akan seimbang. Hidup tanpa ibadah bagaikan bangunan tanpa fondasi. Maka segala sesuatu yang akan dilakukan hendaknya berda-sarkan pada ibadah yang tujuannya untuk mem-peroleh keridhoan dan kasih sayang Allah SWT.
b. Bertaqwa Dengan Baik. Selaku manusia yang beragama haruslah menjalankan syariatnya de-ngan baik. Untuk dapat menjalankan syariat de-ngan baik tentu harus dibarengi dengan iman. Iman seseorang dapat dikatakan berkualitas, jika ia dapat bertaqwa dengan baik. Dengan iman dan taqwa yang baik segala perbuatannya akan senantiasa ber-dasarkan kepa-da syariat aga-ma dan tidak akan merugikan mahluk ciptaan Allah yang lain.
c. Belajar Tia-da Henti. Ibadah benar dan akh-lak baik belum-lah cukup jika tidak didukung upaya belajar dari kita. Belajar merupakan sua-tu kebutuhan bahkan kewa-jiban. Sebagai-mana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an "Aku senantiasa me-ningkatkan de-rajat beberapa tingkat bagi me-reka yang berilmu". Demikian pula sabda Nabi Muhammad SAW, "Tuntutlah ilmu mulai dari buai-an sampai liang lahat" dan "Tuntutlah ilmu walau-pun sampai negeri Cina". Dari hari ke hari ma-salah, potensi konflik, dan kebutuhan kita akan terus bertambah. Bagaimana mungkin kita mam-pu menyikapi masalah tersebut dengan ilmu se-adanya tanpa ada peningkatan kualitas dan kuantitas?
Ciri orang yang sungguh-sungguh dalam men-capai kesuksesan adalah mau belajar tiada henti dan memperoleh ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu akherat.
d. Bekerja Keras dengan Cerdas dan ikhlas. Kita harus menanamkan standar pada diri kita, yaitu bekerja optimal dengan pemikiran yang cerdas. Ada orang yang bekerja dengan keras tapi kurang menggunakan akalnya, akibatnya dia hanya men-jadi pekerja keras saja tanpa ada kemajuan.
e. Bersahaja Dalam Hidup. Seorang pekerja ke-ras seringkali terpuruk karena ketidakbersaha-jaannya dalam hidup. Dia boros, senang berme-gah-megah, sehingga mudah terpedaya dan ter-tipu orang lain. Lain halnya jika dia bersahaja. Kemampuan keuangan kita lebih tinggi diban-dingkan kebutuhan kita. Kita jadi orang yang gemar menabung, bersedekah, dan investasi untuk masa mendatang yang bermanfaat bagi diri kita maupun generasi mendatang. Inilah budaya yang harus kita ajarkan ke masyarakat kita saat ini. Budaya kita bukanlah budaya yang banyak memiliki banyak ba-rang, tetapi budaya yang selalu memiliki nilai tam-bah dari segala yang kita miliki.
f. Bantu sesama. Salah satu alat ukur kesukses-an adalah dilihat dari kemampuan kita memba-ngun diri dan orang lain, misalnya dengan mem-buka lapangan kerja sebanyak mungkin. Kelebihan yang kita miliki digunakan untuk memajukan sanak saudara, tetangga, teman, pembantu, dan siapa saja yang mau maju dan membutuhkan. Jika an-tara orang yang membantu dan orang yang di-bantu memiliki kesamaan tata nilai, ibadah benar; taqwa baik, belajar tiada henti, serta kerja keras dengan cerdas dan ikhlas, maka apa yang telah dihasilkan oleh keduanya akan digunakan untuk menolong saudaranya. Dengan demikian terjadi-lah sebuah sinergi yang harmonis dalam kehidup-an bernegara.
g. Bersihkan hati selalu. Untuk apa kita harus se-lalu membersihkan hati? Apa yang kita lakukan, dari B yang pertama hingga B yang keenam jika tidak diiringi dengan selalu membersihkan hati, maka dikhawatirkan akan timbul ujub atau bahkan yang lebih besar lagi yaitu takabur. Jika semuanya menjadikan kita ujub, maka sia-sialah apa yang telah dilakukan. Allah tidak akan menerima amal seseorang kecuali ada keihkhlasan didalamnya. Kita tidak perlu merasa paling bisa, berjasa, dan paling mulia karena semuanya adalah karunia Allah semata. Kita harus bersyukur diberikan jalan kesuksesan atau kemudahan bagi orang lain oleh Allah. Inilah orang yang akan sukses karena tidak ada dalam dirinya rasa ujub dan sikap takabur dengan segala prestasi yang diraihnya. Apalah ar-tinya kita mendapat banyak hal bila kita tidak men-dapat ridho dari Allah karena kesombongan kita.
Jika kita laksanakan tujuh langkah dan rumus ini maka akan menjadi mantap upaya pencapaian tujuan dalam membangun bangsa ini. Bagaimana bisa keluar dari krisis jika, misal, akhlak kita kurang baik? Maukah kita membeli kebutuhan bulanan kita kepada penjual yang akhlaknya jelek? Maukah kita melihat para pemimpin kita yang buruk akh-laknya? Maukah kita mendapat pasangan hidup yang cantik tapi akhlaknya jelek? Pastinya kita ti-dak menginginkan semua itu. Berarti ada celah kegagalan dalam diri kita.
Para sahabat sangat mencintai dan menghormati Nabi Muhammad SAW, mereka dapat menjaga Sikap dan ahklak di hadapan Rosululloh SAW, namun ada salah seorang Sahabat bernama Nu’man bin Amru. Seluruh penduduk kota Madinah mengenal betul siapa Nu’man bin Amru , Pribadinya yang konyol suka bercanda dan mengerjai orang. kadang bercandanya Nu’man sangat keterlaluan, Para sahabat sudah sering dikerjai oleh kekonyolan Nu’man ini, bahkan Rosulullohpun diperlakukan dengan tidak hormat oleh Nu’man. Bedanya kalau Para Sahabat Marah begitu dirinya dikerjai oleh kekonyolan Nu’man namun Rosululloh Saw Tidak pernah marah akan perlakukan Nu’man tersebut.
Berulangkali Para sahabat menasehati NU’man agar tidak berbuat konyol kepada Rosululloh, karena Rosululloh adalah kekasih Alloh yang harus dihormati dan di muiakan. Tetap saja Nu’man selalu melakukan kekonyolan kepada Rosululloh dan sedikitpun Nabi Tidak marah kepada Nu’man bahkan Rosul membimbing Nu’man untuk meninggalkan sikap mengerjai orang.
Suatu Hari dikota Madinah lewatlah pedagang Madu yang menjajakan dagangannya, sudah beberapa hari ini dagangannya tidak ada yang membeli , pedagang Madu tersebut begitu putus asa bercampur kesal. Wajahnya terlihat pucat, bajunya lusuh. Melihat hal itu Nu’man merasa ibah Hatinya , Nu’man berniat menolongnya untuk membeli madu tersebut namun dia tidak memiliki uang , akhirnya muncullah sifat kekonyolannya untuk mengerjai seseorang. Dia panggil padagang madu” Pak sahabat ku ingin membeli madu dan itu rumahnya..sambil menunjuk rumah Rosululloh SAW” . Lalu Nu’man mengetuk pintu Rumah Rosullulloh sambil membawa Madu, Rosulpun mempersilahkan Numan untuk masuk kedalam. “Ya Rosul ini aku bawakan madu untukmu..sebagai Hadiah dari ku” Kata Nu’man. Setelah memberikan madu tersebut Numan pun pamit untuk pulang.
Nu’man lalu menemui pedagang madu tersebut sambil berkata” Maaf saya mau pergi dulu ada urusan penting yang harus saya selesaikan, nanti Sahabatku sebentar lagi keluar dan membayar Madumu” Kata namun sambil bergegas pergi.
Setelah sekian lama menunggu pedagang tersebut kesal, dan mengetuk dengan keras Rumah Rosululloh SAW sambil berteriak ” Wahai penghuni rumah madu saya belum dibayar”??. Tentu saja Rosululoh kaget mendengar teriakan tersebut, rosululoh tersenyum dan menyadari bahwa Dirinya telah dikerjai oleh Nu’man bin Amru. lalu Rosul pun memberikan uang tersebut kepada pedagang Madu .
Suatu hari Rosululloh bertemu dengan Nu’man bin Amru, sambil menahan Tawa Rosul menegur Nu’man” Wahai Numan apa yang telah kau lakukan pada keluarga NabiMu ? sambil menahan tawanya rosululloh terlihat tersenyum. dasar Nu’man seorang yang konyol mendengar teguran dari Rosul hanya nyengir dan berkata” Ya rosululooh saya tahu kau suka sekali madu….saya ingin sekali membelikanmu Madu dan di hadiahkan kepadamu , tapi waktu iti saya tidak punya uang sama sekali..jadi saya hanya bisa mengantarkan Madu itu saja ketanganmu dan tidak sanggup membelinya, dan semoga saya di beri Hidayah Alloh atas kebaikan ini” kata Nu’man . Mendengar jawaban sahabatnya yang konyol tersebut, Rosululloh tidak marah bahkan mendo’akan Nu’man karena punya niat yang baik memberi Madu ke pada Rosululloh. Begitulah akhlak mulia rosululloh .

DAFTAR PUSTAKA

Tisna Amidjaja, Prof. Dr. DA. Iman, Ilmu, dan amal. Rajawali Pers, Jakarta. 1983.
Ahmad Amin. Etika (Ilmu Akhlak) Bulan Bintang : Jakarta. 1995
Oemar Bakry. Akhlak Musli. Angkasa : Bandung. 1993.
Abuddin Nata. H. Prof. Dr.M.A. Akhlak Tasawuf, PT Raja Grafindo Persaja : Jakarta. 2003.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar